Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan lahan pertanian yang luas serta potensi energi surya yang melimpah karena letak geografisnya di garis khatulistiwa. Namun, sektor pertanian Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan lahan, perubahan iklim, serta kebutuhan energi yang terus meningkat. Di tengah kondisi tersebut, konsep agrivoltaic atau pertanian surya menjadi solusi inovatif yang mampu menjawab dua kebutuhan sekaligus: produksi pangan dan energi bersih.
Agrivoltaic adalah integrasi antara penggunaan panel surya pada sistem lahan pertanian. Panel surya dipasang di atas lahan pertanian dengan ketinggian dan desain tertentu sehingga memungkinkan sinar matahari tetap menyinari tanaman, sekaligus menghasilkan energi listrik. Konsep ini memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan, memperkuat ketahanan pangan, dan mendukung transisi energi bersih (Tumangor, 2024).
Potensi Agrovoltaic di Indonesia

Beberapa negara telah berhasil mengembangkan sistem agrivoltaic dengan hasil yang menjanjikan. Di Jerman dan Prancis, agrivoltaic diterapkan pada lahan kebun anggur dan perkebunan sayuran dengan hasil panen tetap stabil sekaligus menghasilkan energi bersih. Di Jepang, agrivoltaic digunakan pada lahan padi dan kedelai, memungkinkan petani tetap berproduksi sambil memasok listrik ke masyarakat sekitar. Indonesia dapat belajar dari praktik-praktik tersebut dengan menyesuaikan kondisi lokal.
Meskipun Indonesia memiliki sinar matahari yang melimpah, pemerintah perlu mengoptimalkan pemanfaatan potensi ini untuk perkembangan pertanian Indonesia. Misalnya, lahan perkebunan teh di Jawa Barat atau lahan hortikultura di dataran tinggi bisa menjadi lokasi percontohan. Di wilayah pesisir, panel surya bisa dipasang di tambak udang atau bandeng, sehingga listriknya digunakan untuk aerator atau mesin pendingin hasil panen. Pemanfaatan 10-30% dari total luas lahan pertanian yang bisa mencapai 210.000 km² Indonesia mampu melakukan pemasangan panel surya 3-9 miliar di seluruh negeri (Tumangor, 2023). Untuk mendorong penerapan agrivoltaic di Indonesia, diperlukan strategi yang komprehensif:
- Dukungan Kebijakan
Pemerintah perlu memberikan insentif pajak, subsidi peralatan, dan regulasi yang jelas mengenai penjualan listrik dari sistem agrivoltaic ke PLN. - Kemitraan Publik-Swasta
Kolaborasi antara pemerintah, perusahaan energi, lembaga riset, dan kelompok tani sangat penting agar teknologi ini bisa diterapkan secara luas. - Edukasi dan Pelatihan Petani
Petani harus diberikan pemahaman tentang cara kerja agrivoltaic, manfaat jangka panjang, serta cara merawat sistem panel surya. - Riset dan Inovasi Lokal
Universitas dan lembaga penelitian di Indonesia perlu mengembangkan desain panel surya yang sesuai dengan kondisi tropis, tahan cuaca ekstrem, dan ramah terhadap berbagai jenis tanaman. - Proyek Percontohan (Pilot Project)
Penerapan agrivoltaic perlu dimulai dengan proyek percontohan di beberapa daerah, sehingga hasilnya bisa dievaluasi dan menjadi model replikasi di daerah lain.
Indonesia memiliki intensitas cahaya matahari rata-rata 4,8 kWh/m² per hari, angka yang sangat ideal untuk pembangkit listrik tenaga surya. Di sisi lain, sektor pertanian menyerap 30% tenaga kerja nasional dan menjadi penyumbang penting terhadap produk domestik bruto. Namun, tantangan seperti alih fungsi lahan pertanian, ketergantungan pada energi fosil, dan dampak perubahan iklim membuat sistem pertanian perlu bertransformasi.
Konsep agrovoltaic membuat lahan pertanian tidak hanya berfungsi untuk menghasilkan pangan, tetapi juga energi terbarukan. Hal ini sejalan dengan agenda pemerintah untuk mencapai net zero emission 2060 dan menjaga ketahanan pangan nasional. Contohnya, lahan sawah, perkebunan hortikultura, atau bahkan tambak ikan dapat diintegrasikan dengan panel surya tanpa harus mengorbankan produktivitas utama.
Manfaat Agrivoltaic bagi Pertanian Indonesia
- Efisiensi Lahan
Agrivoltaic memungkinkan penggunaan lahan ganda: menghasilkan pangan sekaligus energi. Ini sangat relevan di Indonesia yang menghadapi masalah keterbatasan lahan akibat urbanisasi dan industri. - Perlindungan Tanaman
Panel surya yang dipasang di atas lahan pertanian dapat berfungsi sebagai pelindung dari hujan deras, teriknya matahari, atau angin kencang. Dengan demikian, tanaman lebih terlindungi dari risiko gagal panen akibat perubahan iklim ekstrem. - Penghematan Energi
Energi listrik dari panel surya bisa digunakan untuk pompa irigasi, pendingin hasil panen, hingga rumah kaca modern. Hal ini mengurangi ketergantungan petani pada bahan bakar fosil yang mahal dan tidak ramah lingkungan. - Diversifikasi Pendapatan Petani
Selain mendapatkan hasil panen, petani atau kelompok tani dapat memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan energi listrik ke jaringan PLN atau pihak ketiga. Dengan begitu, kesejahteraan petani dapat meningkat. - Kontribusi terhadap Energi Bersih
Penerapan agrivoltaic mendukung target energi terbarukan Indonesia sebesar 23% pada 2025. Energi surya dari pertanian ini juga dapat mendukung elektrifikasi di daerah pedesaan yang sulit dijangkau listrik.
Dampak Jangka Panjang
Jika agrivoltaic berhasil diimplementasikan secara luas, dampaknya akan sangat signifikan. Pertama, Indonesia dapat memperkuat ketahanan pangan dengan tetap menjaga produktivitas pertanian meski lahan terbatas. Kedua, negara ini dapat mempercepat transisi menuju energi bersih, mengurangi emisi karbon, dan mendukung target net zero emission. Ketiga, kesejahteraan petani dapat meningkat melalui diversifikasi pendapatan dari hasil panen dan energi. Dalam jangka panjang, agrivoltaic juga berpotensi menjadikan Indonesia sebagai pelopor pertanian hijau di Asia Tenggara. Dengan branding sebagai negara yang mampu mengintegrasikan pangan dan energi secara berkelanjutan, Indonesia bisa menarik investasi hijau dan memperluas pasar produk pertanian ke skala global.
Penutup
Memanfaatkan agrivoltaic pada sistem pertanian di Indonesia adalah langkah strategis untuk menjawab tantangan keterbatasan lahan, kebutuhan energi bersih, serta dampak perubahan iklim. Konsep ini memungkinkan lahan pertanian menghasilkan dua hal sekaligus: pangan dan energi. Meski ada tantangan biaya, teknis, dan regulasi, potensi manfaatnya jauh lebih besar. Dengan dukungan pemerintah, riset lokal, serta kemitraan lintas sektor, agrivoltaic dapat menjadi pilar baru pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Lebih dari sekadar teknologi, agrivoltaic adalah wujud transformasi pertanian menuju masa depan yang lebih hijau, efisien, dan berdaya saing global. Bersama Icon Green, wujudkan masa depan pertanian Indonesia yang mandiri energi dengan panel surya inovatif untuk sistem agrivoltaic.